Visit Barus 2010

Saturday, December 23, 2006

Konstitusi

KONSTITUSI DINASTI PARDOSI

Diambil Dari Naskah Jawi yang dialihtuliskan dan dipetik dari kumpulan naskah Barus dan dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.



Fasal Mengenai Menteri dan Pembantu Raja

Adapun aturan yang dibaginya itu bermula dibikin oleh Tuanku Marah Sutan menjadi Tuanku Bendahara di bawah Sultan Maharaja Bongsu kedua dibikin pula salapan (delapan) di bawah menteri yang berempat.

Adapun dahulu-dahulunya satu raja empat menterinya, bermula Tuanku Sultan Maharaja Bongsu penghulunya empat orang, bermula Orang Kaya Balai Mangku Diraja, Kedua Orang Kaya Rastia Lela megang bicara (Juru Bicara atau menteri sekretaris negara--jul) Ketiga Rastia Muda menjaga negeri (Menteri Dalam Negeri—Jul), keempat Maharaja Yang Muda (menteri pertahanan-jul) melawan muruh ketika perang tetapi masih ada anak buahnya dan tidak ditentukan melainkan di dalam negeri itu melainkan mengingat masing-masing kepala anak buahnya juga bagaimana selamanya.

Adapun penghulu yang baru diangkat empat orang demikian juga masing-masing memegang jabatannya di bawah menteri yang empat itu tetapi raja yang boleh kuasa kepadanya angkatannya bermula jadi Hakim kedua memagang aturan negeri atau dari perkara yang kecil-kecil juga.

Adapun gelaran, pertama Hakim, Kedua Orang Kaya Muda, ketiga Orang Kaya Bendahara, keempat Orang Kaya Sutan di Jambur tetapi itu orang tidak anak buah.

Posisi Istana dan Kantor Pemerintahan

Adapaun tempat kediaman itu semuanya di dalam satu area dan segala anak buah.

Tuanku Bendahara tinggal sebelah area tempatnya dengan dua penghulu yaitu Orang Kaya Bendahara dengan Orang Kaya Sutan di Jambur. Adapun area atau ibukota itu seperti dibagi dua karena nan separuh itu area itu dinamai Kampung Dalam tempat Sultan Maharaja Bongsu dengan menterinya empat orang dan dua orang penghulu yaitu Orang Kaya Muda dengan Hakim dan lain-lain penghulu yang kecil-kecil pegangannya ada tinggal di luar kampung yaitu sekeliling dalam negeri adanya dari Simugari sampai Antomas penuh sekalian dengan yang berjabatan.

Mengenai keputusan hukum, banding dan kasasi

Adapun aturan dalam negeri pada bicara jikalau tidak putus pada penghulu yang empat maka lalu kepada menteri dan jikalau tidak putus pada menteri maka lalu kepada Tuanku Bendahara. Dan jikalau tidak putus pada tuanku Bendahara maka rapat segala yang berjabatan ke rumah (istana-jul) Sultan Maharaja Bongsu di Kampung Dalam dan serta dengan menterinya dan Tuanku Bendahara dan serta penghulu keempatnya di muka Sultan Maharaja Bongsu di situ perkara habis. Semuanya didasarkan kepada sekutu kerajaan: Raja Aceh, Raja Batak, Raja Pagarruyung.

Aturan Protokoler

Adapun pasal kebesaran raja yang tekah sudah dipakai dari mula dahulu kala ialah seperti yang tersebut di bawah ini. Bermula kebesaran ketika raja berangkat atau diangkat persebuahan

Raja Berangkat Nobat

1. Bedil Selatus
2. Payung Gadang Payung Berapi dan Payung Berbilang
3. Lapik Sorong
4. Dayang-dayang dan Penginang
5. Pedang Bercabut Kiri Kanan
6. Tombak Janggut Janggi
7. Alam Marwah Mendera Kuning Merah Hitam (ceremonial flag)
8. Bersisandang Pedang
9. Imam Khatib
10. Penghulu
11. Dubalang
12. Berdaulat
13. Bergandang Berkutindi

Kebesaran Dalam Negeri

1. Mesjid
2. Berjumat dan Berkhatib
3. Imam Khatib Bilal Garim Mudin dan sepertinya atau wakilnya
4. Tabuh Larangan
5. Memaki Penghulu
6. Dubalang

Kebesaran Di Dalam Bimbang (Feest)

1. Nobat
2. Bedil Selatus dan Dua kali sembilan
3. Payung Gadang Payung Berapik dan Payung Berbilang dan Payung Kuning
4. Pohon Tunggal
5. Memakai Buni-bunian segala dua dan pakaian segala dua
6. Sicoreng kuning (small flag)
7. Perarakan bunga setangkai bercincin raja
8. Berhujung Serong
9. berjiai? Ali?
10. Berdugang Giring
11. Tunggul
12. Tombak Janggut Jenggi
13. Berlapik kain kuning
14. Gabah-gabah dua kali sembilan
15. Alam Hitam Kuning Merah Segala Dua
16. Mancang Gelanggang
17. Penginang dan Dayang-Dayang dang Pengjur (memakai penginang 8 daiangdaiang 7)
18. Memalu Tabuh Larangan memberi tahu Kepada Rakyat
19. Memakai Sampangan cincin Raja
20. Meniteh Canang Pemanggil Dalam Negeri
21. Berjajakan Kain Kuning atau Kain Candi
22. Bercalum Berkindang-kindang
23. Berdampaing Dalam Mahara Marapulai atau Pararakan

Kebesaran Dalam Kematian

1. Berbinas
2. Bertempung Mandi
3. Pararakan Janjian Raja
4. Nobat dan Buni-bunia
5. Bedil Berserak di tengah jalan
6. Bedil Selatus atau dua kali sembilan

Kebesaran dalam jamuan atau terpanggil masuk ke dalam perjamuan

1. Tatkala sampai di majlis dipasangkan satu bedil dan berdiri sekalian orang yang ada di dalam majlis itu dan serta menjunjung duli semuanya kepada raja yang datang itu hormat besar dan serta adapnya
2. Tilam berhalus dengan kain kuning tilamnya tiga
3. Tempat Sirih berangkuk atau tempat air dua dalam satu pasang
4. Makan seorang berjambur tunggul
5. atau non 6 Makan seorang berjambur Tunggul
6. Satu orang menghadapi makannya
7. Bedil Selatus tatkala kembali dari sana

Fasal Jabatan Raja Dalam Negeri

1. Merintahkan kepada penghulunya dan kepada segala penghulu yang takluk kepadanya
2. Menurun dan Menaikkan orang yang berjabatan pekerjaan raja
3. Memberi aturan dalam negeri atas kebaikan dan selamatan negeri
4. mempunyai tanah kebesaran dan tanah kosong yang pada barang yang orang punyai tidak lagi
5. Nan pnya rombo
6. Nan punya Laut
7. Nan punya Sungai
8. Nan punya Pulau

Fasal Dari Menerima Tanda Kebesaran Dan Hormat Raja Dalam Negeri

1. Menerima sum-sum dada kerbau pada ketika orang memotong kerbau sebab beralek atau kenduri atau memegang puasa atau buka puasa arau pada haru raya lain dari itu memberi padanya
2. Bunga Tanah
3. Bunga Pasir
4. Bunga Kayu
5. Orang handam
6. Kerbau yang tidak bertanda yakni terlepas dari jangkauannya

Fasal Menerima Tanda Hormat Kebesaran Penghulu Asal Dalam Negeri

1. Menerima Lamusih (Shoulder meat) kerbau pada ketika orang memotong kerbau bimbang beralek atau kenduri memegang puasa atau hari raya lain dari itu tanda beradat kepadanya.
2. Apabila ada anak buahnya beralek atau kenduri ada memotong binatang empat kali melainkan anak buahnya panggil penghulunya sama-sama tidak boleh tidak kiranya kalau ada memotong kambing kepala kambing akan jambar penghulunya dan tidak lain orang boleh menerima itu jambar dalam perjamuan jikalau tidak dengan izin penghulu yang punya adat pusaka dalam negeri itu.

Kebesaran Penghulu Asal

1. Bedil Tiga Latus
2. Memakai payung gadang brtutup dengan candi di atasnya
3. Memakai segala tujuh yang lain dari kebesaran raja yang sudah ditentukan meskipun dalam kematian demikian juga.


Fasal Jabatan Pegawai Di Dalam Syarak Yang Bersendi Adat Adat Bersendi Syarak


1. Dia atas mengawinkan
2. Dia atas pekerjaan bimbang yang ada memotong binatang empat kaki atau menyunatkan orang
3. Dia atas orang mati melakukan
4. Kenduri yang ada melakukan ratib dia atas itu yang empat perkara jikalau ada mesti berguna pekerjaan syarak dalamnya tidak boleh lain orang melakukannya melainkan imam-dan khatib atau bilal atau garim atau wakilnya di dalam negeri atau di dalam kampung atau di dalam dusun demikian adanya.

Fasal Wali Dan Pasah Di Atas Orang Islam

1. Rajanya yang Islam kiranya jikalai direzainya oleh raja itu pun boleh juga kepada khadi imam atau khatib atau bilal atau garim lain daripada wakil yang akan dipsang itu yang sudah mungkin akan menanggung halnya itupun. Maka boleh dilakukan jikalau ada bersua perkaranya di dalam kitab bagi nikah dan tidak boleh penghulu kuasa mencampuri pekerjaan pegawai dia atas melakukan syarak atau dia atas lain-lain juga penghulu tidak kuasa kepada pegawai melainkan raja atau sultan orang Islam dalam negeri yang boleh kuasa.

Fasal Adat Yang Dipakai Di Negeri Barus (Hal 170)

Bermula dari Batak
Kedua dari Hindu
Ketiga dari Melayu
Keempat dari Aceh
Keempat dari Bugis
Kelima Dari Agama Muhammad, Syara' Islam.

Catt:

Istana Kesultanan Dinasti Pardosi/Pohan terletak di pinggir jalan yang melintasi dataran rendah melalui Kampung Barus Mudik. Istananya dari kayu disebut Gedung Putih, sekarang istana tersebut sudah hilang terbawa arus deras sungai pada waktu terjadi banjir besar. Masih terlihat sisa-sisa benteng tanah di tiga sisi kampungnya atau dahulu merupakan ibu kota Dinasti Kesultanan tersebut.

Perlu juga kiranya bagi keturunan Pardosi/Pohan, yang berasal dari Barus untuk merekonstruksinya kembali demi mengembalikan kejayaan istana yang dikenal di Barus dengan nama Tempat Tinggal Raja Batak di Barus ini.

1 comment:

Kuis said...

Assalamu'alaikum,
Saya Raja Iskandar dari Malaysia. Terima kasih di atas informasi yang diberikan. Saya amat tertarik dengan istiadat Kesultanan Barus ini terutamanya penggunaan Nobat. Dapatkah tuan memberi saya informasi berkenaan Nobat ini, sekiranya ada, dari sudut sejarah, alat-alat, pemain dan gambar? Adakah buku atau artikel berkenaan Nobat Kesultanan Barus?
Terima Kasih.