Visit Barus 2010

Tuesday, January 30, 2007

Bonapasogit Harus Berkaca Dengan Sidogiri

Sidogiri: Ikon Ekonomi Syariah di Pesantren



------------------------------------------------------------------



Judul Buku : Kebangkitan Ekonomi Syariah di Pesantren: Belajar dari Pengalaman Sidogiri



Penulis : Mokh. Syaiful Bakhri



Penerbit : Cipta Pustaka Utama, Juli 2004



Tebal : 152 hlm



-------------------------------------------------------------------



Peningkatan peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi ummat melalui ekonomi syariah merupakan angin segar di tengah tudingan miring yang menyudutkan pesantren. Masih segar dalam ingatan kita ketika bangsa Indonesia dan dunia dikejutkan oleh Tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002 di Sari Club dan Paddy’s Pub yang menelan korban sebanyak 196 orang meninggal dan 309 orang luka-luka.




Dan ketika pengusutan pelaku aksi teror berdarah itu mengarah kepada “oknum” dari sebuah pesantren di Jawa Tengah, maka tiba-tiba seluruh pesantren yang selama ini sangat berperan dalam pendidikan di Tanah Air dicurigai sebagai “sarang teroris”. Tentu saja, tudingan tersebut sangat menusuk pesantren yang sudah ratusan tahun berkiprah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui program pendidikan tradisional keagamaannya.



Dengan program pendidikan diniyah atau pendidikan yang berorientasi pada penguasaan khazanah ilmu-ilmu Islam tradisional seperti fiqh, tauhid, akhlak, tafsir, hadits dan ilmu-ilmu lainnya--baik yang dilaksanakan melalui pendidikan secara klasikal (madrasiyah) di kelas ataupun melalui pelajaran langsung dari seorang kyai kepada santrinya (sorogan)--pesantren menjadi pusat pendidikan tradisional terutama wilayah pedesaan.



Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogiri merupakan salah satu pesantren tradisional tertua di Jawa Timur yang telah berusia ratusan tahun. Aktifitas pendidikan yang dilaksanakan terdiri dari pendidikan klasikal (madrasiyah) dan non-klasikal (ma’hadiyah). Pendidikan madrasiyah terdiri atas pendidikan ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah. Sedangkan pendidikan ma’hadiyyah lebih banyak mengarah kepada aktifitas pendidikan tambahan dan pelatihan kepada santri agar kelak bisa menjadi khairu ummah (sebaik-baik ummah) yang mengedepankan akhlakul karimah dalam setiap aktifitasnya.



Di samping itu, Ponpes Sidogiri melatih para santri untuk menangani bidang perekonomian. Untuk itu, sejak 1961 KA. Sa’doellah Nawawie (Penanggung Jawab dan Ketua Pengurus Ponpes Sidogiri), merintis berdirinya koperasi sebagai wadah untuk belajar kemandirian, wirausaha (enterpreneurship) dan pengabdian bagi para santri. Kegiatan usaha pertamanya adalah membuka kedai dan warung kelontong di dalam lingkungan pesantren dengan menyediakan kebutuhan sehari-hari para santri. Sejak saat itulah, Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri yang disingkat “Kopontren Sidogiri” terus melangkah dan tidak pernah berhenti dari aktifitasnya sampai sekarang ini sehingga mendapat predikat sebagai “Pesantren Wirausaha Pertama” (Republika, 1 November 2002).



Pendiri Kopontren Sidogiri mengadaptasi jiwa koperasi “dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota“ menjadi “dari santri, oleh santri dan untuk santri”. Karena itulah, modal Kopontren dihimpun dari para santri, dikelola oleh santri dan manfaat atau keuntungannya juga kembali pada santri.



Ada hal yang menarik mengani keuntungan atau SHU dari Kopontren. Karena Kopontren sulit untuk membagikan SHU kepada para santri yang menjadi anggota karena sebagian dari mereka ada yang boyong dan ada yang baru masuk pada pertengahan tahun, maka Pengurus Kopontren mengambil kebijakan yaitu meminta santri yang menjadi anggota Kopontren untuk mengikhlaskan SHU-nya diberikan kepada Pondok.



Sejak saat itulah, SHU Kopontren Sidogiri tidak dibagikan langsung kepada para santri yang menjadi anggota melainkan diberikan kepada Pondok. Dana tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB). Kontribusi Kopontren dalam APB sekitar 30% dari total APB Pondok. Pada APB Pondok Pesantren Sidogiri periode 1425-1426 H misalnya, kontribusi dari Kopontren dianggarkan sebesar Rp 1,3 miliar darii total APB sebesar Rp 4,4 miliar. Kontribusi dari Kopontren sangat besar sekali perannya dalam meringankan biaya pendidikan santri (untuk tidak mengatakan gratis).



Keberadaan Kopontren Sidogiri itulah yang kemudian hari menjadi cikal bakal kebangkitan ekonomi syariah di Ponpes Sidogiri. Setelah berhasil mengembangkan Kopontren, pada pertengahan 1997 pengurus Kopontren dan beberapa orang guru Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Ponpes Sidogiri memprakarsai berdirinya koperasi serba usaha yang fokus usahanya adalah simpan-pinjam pola syariah (SPS) dengan nama Koperasi Baitul Mal wa Tamwil Maslahah Mursalal lil Ummah (BMT MMU). Mereka mendirikan Koperasi BMT MMU karena resah dengan kondisi masyarakat yang mulai terjerat dengan praktik ekonomi ribawi dalam bentuk rentener yang sudah merambah sampai ke desa-desa di sekitar Sidogiri.



Meski para pengelolanya--khususnya guru-guru MMU yang biasanya berkutat dengan pelajaran kitab kuning--merasa seakan-akan memasuki “dunia lain” ketika harus menangani bisnis syariah, namun mereka berhasil mengembangkan Koperasi BMT MMU (Republika, 17 Maret 2004). Dalam tempo tujuh tahun sejak didirikan tahun 1997, Koperasi BMT MMU menunjukkan kemajuan yang signifikan baik dari segi modal, aset dan omzetnya. Omzet bisnis syariah yang saat ini dikelola oleh Koperasi BMT MMU telah mencapai Rp 42 miliar. Begitupula dengan jumlah nasabah yang saat ini telah mencapai lebih dari 12 ribu orang. Unit pelayanannyapun telah berkembang menjadi 12 unit yang tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten Pasuruan.



Setelah sukses mengembangkan Koperasi BMT MMU di kabupaten Pasuruan, para pengurusnya kemudian memprakarsai berdirinya Koperasi Usaha Gabungan Terpadau (UGT) Sidogiri yang diarahkan untuk membangun jaringan LKMS di Jawa Timur. Pada 2002 berdirilah Koperasi UGT Sidogiri di Surabaya yang kemudian menjadi cabang pertamanya. Meski perkembangannya tidak secepat Koperasi BMT MMU dari segi modal, omzet, aset dan nasabahnya, namun secara signifikan Koperasi UGT terus tumbuh dan berkembang. Sejak Desember 2003, Koperasi UGT telah memilik 9 unit pelayanan yang tersebar di 9 kabupaten/kota di Jawa Timur.



***



Buku Kebangkitan Ekonomi Syariah di Pesantren: Belajar dari Pengalaman Sidogiri ini mengungkap sebagian dari geliat Sidogiri dalam mengembangkan ekonomi syariah. Untuk menjelaskan fenomena ekonomi syariah di Sidogiri, penulis membagi buku ke dalam tiga bagian. Bagian pertama berisi profil ringkas dari tiga institusi ekonomi yang berlatang belakang Pondok Pesantren Sidogiri yang dikelola berdasarkan prinsip syariah yaitu Kopontren Sidogiri, Koperasi BMT MMU Sidogiri dan Koperasi UGT Sidogiri. Bagian kedua berisi ulasan tentang ‘denyut nadi’ ekonomi syariah baik yang berhubungan dengan ketiga institusi ekonomi di atas ataupun yang berhubungan langsung dengan Ponpes Sidogiri. Bagian terakhir yaitu bagian ketiga berisi lampiran kutipan reportase media cetak seputar kegiatan ekonomi syariah di Sidogiri terutama yang berhubungan dengan aktivitas Kopontren Sidogiri dan Koperasi BMT MMU Sidogiri.



Pada bagian kedua tersebut, penulis memberikan paparan yang cukup panjang saat Ponpes Sidogiri menjadi tuan rumah acara “Silaturrahim Ulama, Umara dan Tokoh Masyarakat dalam Mengembangkan Perekonomian dan Perbankan Syariah” 29 Maret 2004 yang lalu. Dalam acara tersebut, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia Kantor Pusat Jakarta menghadirkan Dr. Ahmed Ali Abdalla (Pakar Perbankan Syariah dari Sudan) untuk memberikan kuliah umum tentang “Peran Ulama dalam Mengembangkan Perekonimian dan Perbankan Syariah di Sudan.” (hlm 63-75)



Saat memberikan kuliah umum Dr. Ahmed Ali Abadalla mengatakan, prestasi Sudan dalam mengembangkan perekonomian dan perbankan syariah sehingga seluruh sistem perbankan Sudan termasuk bank sentralnya telah sepenuhnya menggunakan sistem perekoniman dan perbankan syariah, tidak terlepas dari peranan para ulama. Para ulama di sana berada pada garda paling depan dan sangat aktif dalam kegiatan sosialisasi wacana dan pemikiran tentang ekonomi Islam atau ekonomi syariah. Hal itu mereka sebagai upaya untuk mencari solusi dari sistem ekonomi kapitalis yang telah menyebabkan Sudan tertimpa krisis ekonomi yang berkepanjangan.



Selain aktif dalam sosialisasi wacana dan praktik ekonomi dan perbankan syariah kepada masyarakat, para ulama Sudan juga aktif mendekati dan mendorong para pengusaha atau pelaku bisnis untuk mendirikan lembaga keuangan syariah. Setalah berhasil mendekati para pengusaha, para ulama Sudan aktif dalam mendekati dan mendorong Pemerintah untuk menerapkan sistem ekonomi Islam. Sinergi ulama, pengusaha dan Pemerintah itulah yang melempangkan jalan ke arah penerapan perekonomian dan perbankan syariah secara total di Sudan.



Setelah Sudan menerapkan perekonomian dan perbankan syariah secara menyeluruh, negera tersebut terbebas dari krisis ekonomi yang mencapai angka enam digit. Sekarang Sudan sudah bias menikmati pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% per tahun.



Belajar dari pengalaman Sudan, para ulama memiliki peran yang sangat penting dalam rangka mengembangkan perekonomian dan perbankan syariah. Bagimana peran ulama di Indonesia dalam mengembangkan perekonomian dan perbankan syariah? Sejauh ini sebagaimana diungkapkan oleh M. Anwar Ibrahim, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI (lihat Ekonomi Syariah dalam Sorotan, 2003), sudah ada ulama yang terlibat secara langsung dalam pengembangan ekonomi syariah melalui dakwah, pemikiran, lembaga pendidikan lembaga ekonomi.



Selain itu, ada yang terlibat dalam sosialisasi formal seperti yang diadakan oleh BI, ada pula yang duduk sebagai Dewan Syariah Nasional (DSN) dan dalam penetapan fatwa. Namun, peran ulama khususnya dari kalangan pesantren dalam mengembangkan ekonomi dan perbankan syariah--sepengetahuan penulis--masih belum terdengar gaungnya. Padahal, ulama dari kalangan pesantren itu memiliki pengaruh yang sangat besar kepada ummatnya daripada ulama yang bukan dari kalangan pesantren. Karena itu, mengingat peran ulama dari pesantren dalam mengembangkan ekonomi dan perbankan syariah di Indonesia masih belum maksimal, maka pengalaman Sidogiri dapat menjadi pelajaran dan inspirasi bagi ulama di pesantren lainnya dalam mengembangkan ekonomi syariah.



***



Keberhasilan Sidogiri dalam mengembangkan ekonomi syariah selain menjadi angin segar bagi kebangkitan ekonomi ummat, juga bias menjadi uswah atau contoh bagi pesantren lainnya. Karena itulah, buku ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mereplikasikan keberhasilan yang telah dicapai oleh Sidogiri dalam mengembangkan ekonomi syariah kepada pesantren-pesantren lainnya. ”Sidogiri sukses membangun kemandirian ekonomi dengan ekonomi syariahnya di wilayah yang kita anggap sebagai wilayah tradisional. Ini merupakan sesuatu yang menggembirakan. Kesuksesan Sidogiri ini harus dipelajari supaya dapat menjadi contoh baik (uswatun hasanah) dan bisa direplikasikan di tempat lainnya,” papar Aries Muftie (hlm 126).

Tiada gading yang tak retak. Demikian pula dengan buku ini. Meski penulisnya menyebut buku ini sebagai reportase pendahuluan, sulit untuk tidak mengatakan bahwa isi buku ini masih terlalu sederhana dalam menggambarkan kebangkitan ekonomi syariah, khususnya yang sedang terjadi di Sidogiri. Meski demikian, Erwin Mardjuni (Direktur Bisnis I PT. Permodalan Nasional Madani) yang memberi Kata Pengantar, menyebutkan “Buku ini mudah dicerna dan gaya bahasa yang sederhana, jelas dan gambling.” Karena itu, tidak bijak rasanya kalau kita hanya menilai buku ini sebagai “sederhana” tanpa berusaha untuk menyajikan sesuatu yang lebih dari buku ini.

No comments: