Visit Barus 2010

Wednesday, March 14, 2007

Dakwah

28 Feb 07 05:02 WIB
Dakwah, Tanggung Jawab Semua Dan Berkelanjutan
WASPADA Online


Oleh Hj Erma Sujianti Tarigan
Islam mengajarkan kepedulian terhadap apa yang terjadi di alam jagat raya. Kita ambil saja ajarannya di dalam ayat dan hadist yang menyebutkan tentang "Saling menasihatilah kamu dalam kebenaran," dan "Sampaikanlah walau hanya satu ayat," serta disebutkannya bahwa kita semua merupakan "khalifah (pemimpin) di bumi " ini, dan setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Pertanggungjawaban yang dimintai dari kita adalah tentang apa yang kita lakukan di muka bumi sepanjang umur dan kelak di peradilan akhirat semua tampak nyata, di mana malaikat tidak bisa disuap untuk meringankan dosa-dosa sebab malaikat tidak punya nafsu untuk kemewahan dan kelezatan dunia.

Dakwah
Sesuai judul, adakah kita pernah berdakwah? Dakwah sebagaimana disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof Dr H M Hatta, adalah mengajarkan orang untuk beramar ma'ruf nahi mungkar, mengajak orang kepada kebaikan dan menentang kemungkaran. Dakwah disampaikan dengan bahasa masyarakat setempat agar mudah dimengerti, dan nyambung. Perlu pula menanamkan sikap jihad dalam berdakwah, katanya.

Muhammad Hatta menyampaikan pendapat serta paparannya dalam acara peluncuran biografi Tuan Guru H Sulaiman Tarigan serta diikuti dengan Dialog Dakwah di Tanah Karo: Dulu, Kini dan Akan Datang, yang digelar di Emerald Garden Hotel, Sabtu (24/2) dengan makalahnya berjudul,"Relevansi Metode Dakwah Tuan Guru H Sulaiman Tarigan Ditinjau Dari Segi Metode Dakwah Modern," juga menghadirkan pembicara Prof Dr Hasyimsyah Nasution, MA., dari IAIN SU tentang "Islam, Adat Karo dan Dakwah Kultural," Drs Baharuddin Pardosi (Kakandepag Kabupaten Karo) tentang "Problematika Dakwah Islam di Tanah Karo-Dulu, Kini dan Nanti," dan Dr Hasan Bakti Nasution, MA., Pengurus MUI Sumut tentang "Peranan MUI dan Ormas Islam dalam Membangun Akselerasi Dakwah Islam di Tanah Karo."

Acara peluncuran biografi Tuan Guru H Sulaiman Tarigan (karya Drs Azhari Akmal Tarigan, MA/ustaz/dosen IAIN SU) dan diikuti dialog dakwah ini hemat penulis sangat berhasil dan mendapat sambutan yang sangat antusias dari ratusan peserta yang memenuhi ruang tempat acara berlangsung, semangat dan tertib hingga acara usai. Tampak hadir dan memberi sambutan Ketua MUI Sumut Prof Dr H Abdullah Syah, MA., Rektor IAIN SU Prof Dr HM Yasir Nasution, Kakanwil Depag SU Drs H Zainal A Nurdin, tokoh masyarakat Karo/pengusaha Ketua Umum Yayasan Sirajul Huda, H. KP Malik Tarigan, Letjen TNI (Purn) H Arifin Tarigan, SH., serta sejumlah tokoh agama, pendidik, dan kalangan Ormas.

Sesungguhnyalah ketokohan seorang H Sulaiman Tarigan khususnya untuk wilayah Tanah Karo sebagai seorang pendakwah tidak bisa dipandang sebelah mata, dan bahkan untuk lingkup lebih luas yakni di jaman perang kemerdekaan beliau juga aktif dengan mendirikan Partai Masyumi di T Karo dan membentuk Lasykar Hizbullah dan Lasykar Sabilillah T Karo yang sebagai komandannya beliau tunjuk adalah Alm. H Abdul Razak Tarigan, yang sebelumnya di jaman pendudukan Jepang sudah terlatih sebagai tentara Heiho.

Di jaman yang serba sulit di masa hidupnya 100 tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Sulaiman Tarigan putra dari Sibayak Juan Tarigan (pemeluk agama Islam pertama di Tanah Karo), dengan gigih belajar agama ke Kutacane, berguru pada orang Aceh bernama Tgk Muda dan kemudian berdakwah di lingkungannya dengan metode sederhana yakni adat budaya Karo yang dilandasi sistem kekerabatan 'Sangkep Si Telu,' mengajak kaum kerabatnya untuk memeluk Islam secara berbisik-bisik. Dakwah secara kultural yang dilakukannya cukup berhasil membentuk komunitas muslim Karo di kawasan Singalor Lau, Tanah Karo, hingga kini. Beliau juga membangun masjid dan madrasah/pesantren Sirajul Huda yang hingga kini tetap eksis. Terlebih pula beliau berpoligami (memiliki tiga orang istri) sehingga dari segi kuantitas semakin besar dan kekerabatannya semakin meluas. Ternyata poligami, salah satu cara yang sangat efektif dalam berdakwah, bukan?

Kaderisasi dakwah
Dengan kehidupannya yang sederhana sebagai petani dan guru agama yang kemudian menjadi Kandepag Kabupaten Karo yang pertama, Tuan Guru Sulaiman Tarigan mengirimkan tiga orang keponakannya yang cepat jadi yatim masing-masing Alm. H. Abdul Manaf Tarigan dan H Khairullah Tarigan belajar agama di Kesultanan Langkat, dan satunya lagi Alm. H Abdul Razak Tarigan dikirim ke Masjid Lama (Masjid Bengkok) di Medan.

Ketiganya merupakan kaderisasi yang beliau lakukan untuk melanjutkan dakwah Islam di Tanah Karo. Kelak di kemudian hari kadernya tersebut H Abdul Manaf Tarigan yang menetap di Jl PWS Medan, menjadi ustaz yang sangat dikenal utamanya di lingkungan masyarakat muslim Karo, H Khairullah Tarigan menetap di Tigabinanga, Kabupaten Karo menjadi ustaz/tuan kadhi dan mantan Ketua MUI Kabupaten Karo, sedang Alm H Abdul Razak Tarigan, sempat jadi guru agama di Kabanjahe, dan kelak aktif sebagai pejuang dan namanya sejajar dengan Jamin Ginting dan Selamat Ginting. Almarhum H Abdul Razak Tarigan beberapa kali menjadi kurir untuk bertemu pahlawan Aceh Daud Beureuh. Bedanya, perjuangannya hanya dengan niat "Lillahi Ta'ala." Kaderisasi da'i di keluarga besar ini terus berlanjut, tercatat seorang ustaz muda H Abdul Azis Tarigan, LC yang sedang mengambil S-2 di IAIN Sumatera Utara.

Proaktif
Dari ketiga hal di atas (alinea pertama) penulis berpendapat bahwa Islam sudah memerintahkan kita untuk selalu, dan setiap hari berdakwah. Berdakwah dalam artian bukanlah dakwah yang terorganisir dengan sistem dan metode tertentu di bawah lembaga tertentu dan dengan dana tertentu pula. Melainkan dilakukan oleh setiap individu muslim/muslimah secara ikhlas atas dasar adanya rasa tanggungjawab terhadap alam semesta ini, rasa tanggungjawab terhadap perubahan dan pergeseran nilai-nilai dari nilai ideal sebagaimana ajaran agama.

Dengan kata lain, Islam memiliki ajaran yang dapat membentuk umatnya menjadi manusia yang sangat proaktif dalam beramar ma'ruf nahi mungkar. Peduli terhadap masalah sosial, budaya, politik dan membela tanah air, peduli terhadap lingkungan, serta bersikap proaktif untuk menata alam semesta ini sesuai ajaran Islam. Maka dengan mengimplementasikan ajaran agama Islam itulah nantinya terbukti Islam merupakan rahmat bagi alam semesta.

Ajaran Islam memang tidak bisa hanya didiskusikan, dibahas dan diperdebatkan, melainkan kata kuncinya adalah mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari pengimplementasian Islam sebagai agama damai secara konsisten itulah Islam membawa nuansa kedamaian dan perdamaian. Barangkali masalahnya hari ini adalah betapa semakin jauhnya kita dari nilai-nilai Islam, sehingga jumlah pemeluk agama Islam mengalami penurunan baik di Indonesia, maupun di Tanah Karo sendiri. Di Tanah Karo dakwah sedang mengalami penurunan, seringkali para mualaf tidak mendapat pembinaan secara serius dan berkelanjutan, dengan kata lain setelah dikhitan, mereka ditinggalkan begitu saja.

Yang menggembirakan justru di Eropa dan Amerika umat Islam mengalami peningkatan setelah peristiwa 11 September. Karenanya seorang ulama Mesir meramalkan, kebangkitan Islam kemungkinan terjadi di Barat, bukan di negara Islam seperti Indonesia yang sedang dirundung musibah beruntun sebab bersifat sangat korup. Ramalan ulama Mesir tersebut memang masuk di akal, sebab ajaran Islam hanya bisa dipahami oleh orang yang cerdas dan berhati lurus sehingga mengimplementasikannya juga benar (tidak disusupi nilai adat istiadat dan nilai-nilai lain), melainkan sesuai Al Quran dan As-Sunnah.

Tanggungjawab
Dakwah merupakan tanggungjawab kita semua. Dakwah dapat dilakukan melalui kegiatan atau profesi yang dilakoni setiap hari. Dakwah dapat dilakukan melalui diri sendiri, yakni dengan cara konsisten pada ajaran Islam, tidak bermuka dua, tidak berperilaku munafik (lain kata dengan perbuatan). Di sinilah terbukti Islam merupakan rahmat bagi alam semesta.

Memang akan lebih baik dakwah dilakukan secara terorganisir, sistematis dengan metode kultural dan modern, terus menerus berkelanjutan, tidak tergantung dana, namun keadaan keluarga para juru dakwah harus mendapat perhatian. Dakwah yang bertujuan membangun akhlakul karimah bukan kerja ringan, melainkan sangat berat terlebih kita berada di jaman yang kapitalistik dan hedonistik. Hanya iman yang tangguh mampu konsisten beragama dengan baik.

* Penulis adalah wartawati Waspada/moderator pada acara Dialog Dakwah Di T.Karo; Dulu, Kini dan Akan Datang

No comments: