Visit Barus 2010

Wednesday, March 14, 2007

Peran Ormas

14 Mar 07 08:16 WIB
Menunggu Peran Ormas Islam
WASPADA Online


Oleh Muhammad Khalid, MA

Pernah diungkapkan oleh pakar politik Dr. Asep Syaiful Muhtadi dalam acara bedah buku "Era Baru Politik Muhammadiyah" :menurutnya, " bahwa hubungan Ormas pada partai politik berjalan tidak fair, karena berusaha untuk menutupi dukungan masing-masing pada parpol tertentu. Ini telihat pada pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah di berbagai daerah.

Apa salahnya organisasi massa (ormas) Islam secara terbuka mendukung parpol atau gabungan parpol tertentu setelah melakukan kajian, penelitian dan pengamatan yang mendalam, seperti ditulis Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung (9/5/2005).

Tulisan di atas ada baiknya menjadi perenungan kita bersama jelang pemilihan kepala daerah Sumut tahun depan. Harian ini memberikan warning dan kehatiÐhatian kepada kita untuk berlaku arif dan bijaksana mensikapi situasi yang berkembang di tengah semakin transparannya upaya dukung-mendukung dan keriteria bakal calon yang akan di tetapkan kemudian, baik dalam rangka mendukung atau menjatuhkan kandidat tertentu.

Peran Dan Fungsi Ormas Islam
Pernah terlihat sedikit agak terkesan lucu ketika Kongres umat Islam Indonesia (KUII) 1 berhasil melahirkan satu kesepakatan untuk mendukung Partai Masyumi, namun pada KUII selanjutnya baik yang ke 2-4 dukungan semakin tidak jelas, namun anehnya ketika pada sidang komisi KUII ke-4 terjadi penghujatan kepada Parpol Islam tanpa adanya upaya menghadirkan mereka dalam mengikuti forum kongres. Tentu penilaian ini suatu hal yang sangat naif dilakukan.

Inilah saat terpenting melalui visi yang dicetuskan oleh MUI beserta Ormas Islam Sumut di Bina Graha Pemprovsu dalam acara "Dialog Ukhuwah Islamiyah", ditetapkan tahun 2007 sebagai tahun solidaritas umat Islam. Hal ini patut untuk disahuti bersama, dalam kerja-kerja ril di lapangan, dengan dilandasi jiwa keikhlasan dan berbaik sangka antar sesama ormas maupun parpol Islam, sebagai wujud menyatukan langkah, persepsi dan strategi menghadapai pilkada tahun depan.

Sudah saatnya Ormas Islam seperti Al-Washliyah, Muhammadiyah, Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi), Nahdlatul Ulama (NU), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) duduk satu meja dan menggalang silaturrahmi secara berkesinambungan seperti yang telah digagas Parpol Islam (PKS, PPP, PBB dan PBR) secara intensif sejak pra Ramadhana lalu. Agar terjadi satu persepsi, visi dan kriteria bakal calon Gubsu yang akan diusung, tanpa adanya perasaan siapa yang lebih dominan di antara Ormas, atau merasa siapa memanfaatkan dan siapa yang dimanfaatkan.

Di samping itu perlu bersama-sama merancang format pembangunan umat Islam kedepan, agar umat ini dari hari ke hari terjadi peningkatan dalam bidang ekomoni, mutu SDM, budaya Islam dll

Sangat wajar peran Ormas Islam untuk dimaksimalkan, agar dapat bergandengan tangan, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi untuk saling bahu membahu mendukung kereteria bakal calon yang akan diusung nantinya. Disertai terlebih dahulu melakukan kontrak politik sebagai pra syarat untuk dapat mengoreksi jika terjadi berbagai penyelewengan dan penyimpangan dikemudian hari, walaupun tawaran ini dalam kenyataan sangat sulit dan bahkan sering terjadi pelanggaran dan ingkar janji yang telah menjadi kesepakatan sebelumnya. Inilah yang terkadang menjadi kekhawatiran sebagian pihak, bahwa Ormas sebagai alat tunggangan politik kandidat tertentu, hal ini harus menjadi pemikiran untuk sebaliknya, dengan berupaya memanfaatkan para kandidat yang beredar di masyarakat seperti H. Syamsul Arifin, SE, Ali Umri, SH, MKn, Drs. Abdillah, AK, MBA, Chairuman Harahap, SH MH, Heri Wijaya Maruki, dll untuk kepentingan umat yang lebih besar di kemudian hari.

Kriteria Pemimpin Menurut Islam
Kepemimpinan dalam Islam bukan suatu prestise yang patut dibanggakan dan bukan pula untuk mendapat berbagai kemudahan fasilitas hidup, namun ia sebagai taklif (suatu beban) yang akan dipertanggung jawabkan kelak, maka dukung-mendukung yang akan terjadi oleh pemimpin ormas tetap harus tetap berkomitmen pada nilai yang diajarkan Islam, yakni:

Pertama, menghindari sikap primordialisme dan Ashobiyah, tidak memandang lagi apakah ia sebagai orang Melayu, Jawa, Mandailing, Karo, Batak, Banjar, Bugis dll, yang terpenting bagaimana ia senantiasa bekerja untuk kepentingan umat Islam yang rahmatan lil 'alamin yang dapat mengayomi semua pihak termasuk kaum di luar umat Islam. Sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi SAW dengan Piagama Madinahnya. Tidak lupa kita harus ingat akan sabdanya yang berbunyi: "Barang siapa yang mengangkat seorang laki-laki (untuk suatu jabatan ) berdasarkan sikap pilih kasih, padahal ada dilakalangan mereka orang yang telah diridhoi Allah darinya, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman" (H.R. Al-Hakam Sayuti mensha-hihkannya).

Kedua, tidak vested interest, maksudnya adalah bagaimana ia berupaya menjalankan pra dan pasca pemilihan, berpikir sebagai pelayan, berbuat untuk kepentingan dan kesejahteraan umat Islam ke depan. Vested interest bagi kandidat akan mempunyai dampak buruk bagi umat nantinya, sebab inilah yang dikhawatirkan Nabi Saw. :

Dari Ka'ab bin Malik al-Ansyari dari Ayahnya berkata, rasulullah Saw bersabda, tidaklah dua serigala yang lapar dikirim ke kumpulan kambing, lebih merusak dari pada ambisi seseorang dengan harta dan kedudukan untuk (kepentingan) agamanya. (HR. Tirmizi Kitab "Az-Zuhdu" No. 2376 dan Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/456 dan 460).

Ketiga, seorang pemimpin yang baik dan ikhlas dapat dilihat dari keberpihakannya terhadap masyarakat kelas bawah, dengan mengoptimalkan perhatian semata-mata pada mereka, baik aspek afektif, kogneti dan fisiko-motorik. Inilah sikap yang diwariskan oleh Nabi yang sampai akhir hayatnya masih tetap mengingat akan nasib umatnya "ummati, ummati, ummati".

Keempat, Senantiasa memperhatikan kesalehan rakyatnya, dengan diawali oleh kesalehan pribadi sang pemimpin, sehingga kesalehan dapat ditransfer kepada bawahannya. Pengalaman ini telah dilakoni Ummar Bin Kattab, terhadap pembinaan keimanan grass root, seperti diungkapkan dalam kisahnya setelah ia mengimami shalat Ashar, beliau menyatakan tentang keadaan salah seorang sahabatnya yang tidak hadir shalat berjamaah. Diberitahukan kepadanya, si pulan sakit di rumahnya. Umar bergegas menjenguk ke rumahnya.

Sesampainya di rumah sahabat yang sakit, khalifah Umar mengetuk sembari memberi salam, dari dalam rumah sahabat itu menjawab salam Umar, sekaligus bertanya, siapa di luar? Umar menjawab, saya Umar Bin Khatab. Mendengar yang datang seorang Khalifah (Presiden) maka ia bergegas membuka pintu dan bangkit.

Melihat kesigapan ini, Umar segera bertanya, apakah engkau lagi takut terhadap panggilan Umar ketimbang panggilan Allah dari langit ke tujuh," hayya 'alash shalah" (mari tunaikan shalat) akan tetapi engkau tidak meyahutinya sedangkan panggilan Umar membuatmu gelisah dan merasa ketakutan.

Terakhir hemat penulis, tidak kalah pentingnya syarat kelima adalah faktor pengalaman kandidat dalam mengurusi suatu kabupaten/kota. Dengan dibuktikan melalui keberhasilan melayani nasib ribuan rakyat yang menjadi tanggung jawabnya.

Penutup
Patut menjadi pelajaran berharga bagi kita semua terkait dengan kekalahan umat Isam pada pemilihan gubenur di Kalimantan Timur. Setelah memunculkan dua kandidat dari kaum muslimin dan satu orang dari Minhum . Alhasil nafsu dan keinginan terkubur akibat kekalahan yang diderita oleh dua calon ambisius. Kejadian serupa jangan sampai terulang dan cukuplah selama dua tahun ini menjadi pelajaran dan cermin berharga bagi para tokoh Ormas untuk bersatu padu dan mengarahkan anggotanya, sehingga umat Islam jangan sampai kehilangan tongkat kedua kali. Semoga daerah yang berpenduduk hampir 20 juta jiwa tetap dinahkodai oleh seorang Muslim yang taat, bertakwa, cerdas, tidak ambisius dan ikhlas untuk menginfaqkan dirinya demi rakyat Sumut. Kita bangga punya pemimpin pilihan umat kelak, sebab kualitas umat akan ditentukan oleh sang pemimpinnya. Oleh karena itu, kita semua tidak boleh berpangku tangan dan teruslah bergerak, jika sang pemimpin yang diangkat ingkar janji, maka para pemimpin ormas pulalah yang pertama kali untuk menegur, mengingatkan bahkan untuk menurunkannya.

* Penulis adalah Sekretaris Umum Ikatan Da'i Indonesia Langkat

No comments: